InstaForex
News Update :
Tampilkan postingan dengan label entrepreneur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entrepreneur. Tampilkan semua postingan

hary tanoesoedibjo Ternyata Mantan Remaja Nakal

11/28/2014

Suka Berkelahi, dan Bahkan Sempat di Drop Out Waktu Sekolah, Hary Tanoe Berhasil Bangkit dan Menjadi Raja Media Indonesia. Inspiratif!
Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo lahir di Surabaya, 26 September 1965. Anda mengenalnya sebagai Hary Tanoe (HT), pemimpin MNC Group, salah satu perusahaan media terbesar di Indonesia. Dengan kekayaan sebesar US$1,3 miliar, Forbes menempatkannya pada posisi #22 dalam daftar 50 Orang Terkaya di Indonesia. Namun di balik itu, siapa sangka kalau di masa remajanya, penguasa media ini pernah kena dropout?

Kesalahan masa lalu tidak menentukan masa depan Anda.
“Saya sewaktu SMA suka balap mobil dan grass track. Karena berkelahi terus, saya diskors. Sampai akhirnya tidak bisa ujian dan akhirnya dropout,” katanya.
Baru setelah dropout, HT berpikir perilaku ini harus diubah. Momen insafnya datang ketika sang Ibu memberikan nasehat padanya untuk mencontoh sosok sang Ayah yang sejak SD sudah tinggal mati orang tua hingga kemudian harus bekerja keras membiayai keenam anaknya dengan kelimpahan harta dan kesempatan. Maka, HT mati-matian mengejar ketertinggalan akibat tak belajar ketika SMA. Pada pertengahan 1980-an, ia lulus dengan ijasah persamaan setelah mengikuti ujian paket C.
Pemimpin Raksasa Media Indonesia, Ternyata Mantan Remaja Nakal profil pendiri rcti profil hary tanoesoedibjo profil hary tanoe hary tanoesoedibjo hary tanoe
Yang menentukan, adalah perjuangan Anda.
Setelah mendapat ijasah persamaan, HT berangkat ke Kanada. Di sana, ia belajar bisnis di Carleton University, dan dilanjutkan ke Ottawa University untuk gelar Master of Business. “Setelah lulus MBA, barulah saya punya visi. Saya harus menjadi pemain global,” katanya.
Pada Februari tahun 1990, ia pindah ke Jakarta tanpa pernah ke Jakarta sebelumnya. Ia mendirikan perusahaan sebelas hari setelah dirinya menamatkan perkuliahan.
“Orang saat ini banyak mengenal saya sebagai pengusaha media. Padahal sebelumnya saya punya perusahaan di bidang jasa keuangan.”
Saat ini, setelah hampir 25 tahun menjalani bisnis, perusahaannya mampu memperkerjakan 26 ribu karyawan intelek. “Karena bidang usaha saya meliput jasa, 78 persen karyawan kami berpendidikan sarjana. Dan melibatkan banyak intelektual,” paparnya.

Perjuangan, datangnya dari perubahan mental.
HT menyatakan bahwa perubahan karakter merupakan salah satu unsur paling penting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Sebab, musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Tanpa menaklukkan aspek negatif dari diri sendiri, sulit bagi seseorang mengubah nasibnya.
“Praktis, musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Kita harus mengubah sifat-sifat negatif kita dulu,” tandasnya.

… dan faktor ingkungan.
“Hidup memang pilihan. Mau malas, mau rajin, mau bergaul dengan siapa, itu pilihan kita,” katanya. HT, selalu berupaya untuk mengelilingi dirinya dengan lingkungan yang tepat. Baginya, lingkungan sangat mempengaruhi mental dan karakter seseorang. HT mencontohkan betapa lingkungan sangat berpengaruh dalam hidupnya,
“Tahun 1990-1993 saya mengajar di Magister Managemen Universitas Indonesia. Saat itu saya banyak bergaul dengan orang-orang besar, sehingga itu membuat saya lebih matang dalam berfikir. Dalam melihat masalah,” tuturnya.

bagaimana cara menjadi kaya?

Pendidikan adalah hal yang penting bagi banyak orang terkaya di dunia. Elon Musk (CEO SpaceX dan Tesla) menyelesaikan S1 di bidang ekonomi dan fisika secara bersamaan di Wharton.
Sebenarnya, bagaimana cara menjadi kaya? Warren Buffet, Elon Musk, Liliane Bettencourt, Oprah Winfrey, dan Li Ka-Shing adalah beberapa orang terkaya di dunia. Tentunya, mereka adalah orang-orang yang paling tahu bagaimana cara menjadi kaya. Apabila kita menganalisa perjalanan mereka sebelum mendapatkan 1 milliar dollar pertamanya, mereka mempunyai beberapa kesamaan. Berikut adalah beberapa hal yang membuat mereka bisa menjadi sangat sukses.

Bagaimana Cara Menjadi Kaya Ala Milyarder Luar Negeri (Graphical Book) tips menjadi kaya rahasia kaya cara menjadi sukses cara menjadi kaya

Memulai di Usia Muda
Orang-orang terkaya di dunia biasanya memulai bisnisnya di usia yang masih sangat muda. Warren Buffet ketika masih SMA, membeli sebuah mesin pinball seharga 25 dollar, dan berhasil dijualnya seharga 1200 dollar. Beliau juga membeli saham pertamanya di usia 11 tahun dan mulai membayar pajak pada usia 13 tahun. Contoh lainnya adalah Elon Musk yang sering dijuluki sebagai Tony Stark-nya dunia nyata (kalau Anda tidak tahu Tony Stark, keterlaluan. Coba tonton Ironman). Elon Musk menjual program video game pertamanya di usia 12 tahun. Contoh terakhir, Liliane Bettencourt mulai bekerja di L’oreal sejak umur 15 tahun.

Berprestasi di Sekolah
Pada umur 17 tahun, Warren Buffet sudah masuk Wharton, salah satu sekolah elit di Amerika. Umur 19 beliau lulus dari Universitas Nebraska Lincoln di bidang bisnis. Cerita menarik hadir dari Oprah Winfrey. Meskipun sempat memulai sekolahnya dengan kondisi buruk, Oprah berhasil menjadi juara 2 lomba debat nasional dan mendapatkan beasiswa untuk belajar ilmu komunikasi di Universitas Tennessee State. Elon Musk lebih gila lagi, pada umur 19, dia berhasil menyelesaikan kuliah di bidang ekonomi dan fisika secara bersamaan di Wharton. Elon sempat juga mengejar Ph.D (S3 kalau di Indonesia) dalam bidang fisika material di Stanford. Kemampuan Elon di bidang fisika dan ekonomi membuatnya berhasil memimpin SpaceX dan Tesla, dua perusahaan paling “Tony Stark” di dunia ini.

Mampu Memanfaatkan Peluang
Titik balik kehidupan Li Ka-Shing, orang terkaya di Asia, dimulai ketika tahun 1967 terjadi kekacauan di Hong Kong. Li membeli banyak sekali tanah dengan harga yang sangat murah. Ternyata, penurunan harga di Hong Kong hanya terjadi sebentar, kemudian melonjak sangat tinggi. Li yang membeli tanah dengan harga murah berhasil menjadi raja property di Hong Kong. Saat ini, 1 dari 12 rumah di Hong Kong tidak lepas dari sumbangsih Li Ka-Shing.

Rajin Beramal
Warren Buffet telah berkomitmen untuk menyumbangkan 99% dari hartanya untuk kegiatan amal. Li Ka-Shing juga mendonasikan milliaran dollar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dunia, sekolah kedokteran, dan rumah sakit. Bentuk amal dari Liliane Bettencourt mungkin yang paling unik. Selain memberikan bantuan di bidang pendidikan, beliau juga mendanai berbagai riset yang ditujukan khusus untuk komunitas yang terpinggirkan. Contohnya, L’Oreal membangun ethnic hair and skin research, khusus untuk mengembangkan kosmetik bagi ras yang sering terpinggirkan.

Tidak Mau Jadi Pegawai, Anak Muda Ini Sukses Besar Jadi Pengusaha

Rachman Adi Sempat Dipaksa Orang Tuanya Untuk Menjadi Pegawai. Namun, Dia Tetap Menolak dan Memilih Menjadi Pengusaha. Kini, Kebab Buatannya Dicintai Banyak Orang!
Bagi kamu pecinta kuliner, pasti tak asing dengan Kebab. Ya, makanan khas negara Turki dan negara-negara di wilayah Timur Tengah ini rasanya sangat lezat dan cukup mengenyangkan untuk mengganti nasi. Selain itu, kebab ternyata juga mampu menjadikan Moch Rachman Adi sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Berikut petikan wawancara Studentpreneur dengannya.

Kenapa sih mas memilih berbisnis kuliner, khususnya kebab, padahal orang Indonesia kan identik dengan nasi?

Ya betul, kebab adalah makanan khas masyarakat Turki. Disini saya ingin menghadirkan sesuatu yang spesial bagi pencinta kebab di negeri ini. Dengan cita rasa khas luar biasa yang dipadukan tortilla terlembut di Indonesia, saya ingin memberikan sesuatu yang berbeda, yang belum pernah ada sebelumnya. Dan saya rasa, peluang bisnis kuliner untuk kebab masih sangat terbuka lebar. Walaupun bukan menjadi menu utama bagi kebanyakan orang Indonesia, saya rasa kebab cukup mengenyangkan.

Lantas, bagaimana awalnya mas berkenalan dengan kebab?

Awalnya, saya mengenal kebab dari seorang teman yang masih memiliki garis keturunan orang Timur Tengah. Pertama kali mencoba kebab saya langsung jatuh hati dan ingin sekali bisa membuatnya dan memasarkannya kepada masyarakat luas. Saya mulai bertanya cara membuatnya, bertanya tentang bumbu dan bahan-bahan masakan yang diperlukan serta proses memasaknya. Akhirnya, saya mulai banyak melakukan modifikasi dan inovasi hingga tercipta berbagai macam variant rasa yang sangat unik dan belum pernah ada sebelumnya. Bahkan, kebab buatan saya tersaji dalam bentuk frozen dan ukurannya mini. Saya berani menjamin bahwa kebab buatan saya adalah yang pertama di dunia dan di negara asalnya pun tidak ada.
Tidak Mau Jadi Pegawai, Anak Muda Ini Sukses Besar Jadi Pengusaha rachman adi prospek bisnis kebab kebab kebudd bisnis kuliner bisnis kebab sukses bisnis kebab

Saya jadi tertarik, kebab seperti apa yang telah mas buat itu?

Awalnya, saya mengolah kebab dengan isi daging sapi dan daging ayam seperti kebab pada umumnya. Tapi seiring berjalannya waktu, saya harus memiliki diferensiasi produk dimana kebab yang saya buat tidak dimiliki oleh pesaing. Saya membuat Kebab Ayam Pedass yang merupakan kebab ayam terpedas di Indonesia. Varian ini cocok bagi penggemar pedas yang ingin menikmati perpaduan bumbu spesial pedas. Setelah itu saya menghadirkan sesuatu yang tidak kalah sensasional dari produk sebelumnya yaitu Kebab Buah (Fruity Mix Choco) yang dipadu dengan cokelat. Kebab dengan berbagai macam isi buah ini tidak pernah ada sebelumnya.
Kemudian yang sekarang ini menjadi produk andalan Kebab Kebubdd, yaitu Kebab Mini Durian. Kebab ini menggunakan 100% Durian Medan, dengan komposisi yang pas dengan perpaduan tortilla dan keju. Saya menggunakan Durian Medan Asli yang mempunyai rasa legit, daging lembut dan tebal serta aroma wangi khas durian. Kebab Mini Durian dapat langsung dimakan tanpa perlu dipanggang, dan sangat nikmat ketika dimakan pada saat dingin.

Dari namanya juga cukup unik, kenapa mas memilih nama Kebab Kebudd?

Ya, brand atau nama perusahaan adalah kekuatan dari sebuah sebuah perusahaan. Begitu pula dengan pemilihan nama Kebab Kebudd dimana saya sendiri menemukannya ketika sedang mengendarai mobil saat berada di jalan tol. Tiba-tiba saja tercetus nama Kebab Kebudd karena memang proses penyajiannya yang cepat. Selain itu, nama Kebab Kebudd juga lebih mudah diingat karena hanya ada dua kata yang pengucapannya pun hampir mirip. Itulah kenapa saya memberi nama Kebab Kebudd yang kini sudah dikenal banyak orang. Oh iya, pembelian Kebab Kebudd hanya dapat dilakukan secara online mengingat kami tidak memiliki outlet secara fisik.

Apa sih mas suka dan dukanya menjalankan bisnis kebab?

Kalau dibilang suka dan duka, mungkin sama seperti pengusaha sukses yang lainnya, saya pun juga mengalami pahit-manis dalam menjalankan bisnis. Bayangkan saja, saya merintis bisnis sejak masih duduk di bangku kuliah. Dan karena sibuk menjalankan bisnis sampai-sampai kuliah pun tak terurus hingga molor beberapa tahun. Tak hanya itu saja, orang tua pun menginginkan agar saya menjadi seorang pegawai. Menurut mereka, menjadi pegawai akan lebih menjanjikan karena akan mendapat penghasilan tetap setiap bulan. Tetapi saya pun meyakinkan mereka bahwa menjadi seorang pengusaha yang berjualan kebab pun juga dapat sukses dan memiliki penghasilan yang tak berbatas.
Selain itu, dari produknya sendiri. Kebab Kebudd memiliki varian dengan isi buah yang tidak pernah ada sebelumnya. Jadi, tidak mudah untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa kebab buah pun rasanya tak kalah enak dengan kebab isi daging sapi ataupun daging ayam. Butuh waktu yang cukup lama agar kebab buah dapat diterima oleh masyarakat. Seiring berjalannya waktu, masyarakat pun akhirnya tertarik dengan kebab buah dimana memberikan sensasi tersendiri.

Apa target kedepan yang ingin dicapai?

Setiap orang tentunya ingin kehidupan yang lebih baik dan terus meningkat setiap hari. Begitu pula dengan Kebab Kebudd dimana saya menginginkan agar kedepan nantinya Kebab Kebudd lebih dapat diterima oleh masyarakat. Saat ini Kebab Kebudd telah memiliki 16 outlet yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Oleh karena itu, jumlah tersebut kedepan harus dapat bertambah dan semoga juga bisa diterima oleh pasar Internasional. Selain itu, saya juga berkeinginan untuk membuat sebuah outlet atau semacam kafe yang dapat menyajikan Kebab Kebudd langsung dihadapan para pembeli.

Apakah ada tips untuk mulai membangun sebuah bisnis?

Apa yang sudah ditetapkan dari sebuah business plan harus segera ditindaklanjuti. Bagi saya, menjalankan bisnis juga harus memiliki konsistensi. Artinya, jangan hanya pada awal menjalankan bisnis masih semangat tapi kemudian seiring berjalannya waktu justru menjadi stagnan sehingga membuat bisnis tak banyak berkembang. Selain itu, dalam menjalankan bisnis juga perlu seorang mentor untuk tetap memberikan motivasi dan bahkan ide-ide baru agar bisnis dapat lebih berkembang. Terakhir, seorang pebisnis juga harus memiliki passion dan bermanfaat bagi orang lain.

Bisnis Beromzet Puluhan Juta Rupiah Per Bulan

Laksamana dan Theodorus Masih Berusia 20 Tahun, Namun Sudah Berhasil Membangun Bisnis Beromzet Puluhan Juta Rupiah Per Bulan.
Industri kreatif semakin menunjukkan geliatnya di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya anak-anak muda yang sukses menekuni bidang ini. Seperti halnya Laksamana Mustika dan Samuel Theodorus yang kini sukses membangun perusahaannya yang diberi nama Elven Digital. Fokus dengan bisnis Digital Branding Consultant yang dijalankannya, klien-klien mereka adalah sejumlah perusahaan besar.

Jadi, bisa diceritakan, apa sih digital branding consultant itu?

Digital Branding Consultant yang kami tekuni ini menawarkan untuk membantu perusahaan-perusahaan atau usaha client supaya lebih maju. Hal tersebut dilakukan melalui identitas brandingnya (melakukan redesign logo, kop surat, kartu nama,dll). Semuanya dikemas lebih premium, mempunyai website dengan design yang stunning, serta memasarkan produk-produk atau jasa-jasa para klien melalui internet. Dengan begitu perusahaan para klien akan mencapai identitas branding yang premium dan siap dipasarkan secara global melalui internet.
Omzet Pebisnis 20 Tahun Ini Mencapai Puluhan Juta Rupiah Per Bulan perusahaan branding sukses pebisnis pemula sukses pebisnis muda sukses pebisnis muda

Kenapa terpikir oleh Mas untuk terjun kedalam bisnis ini, kan ada banyak peluang usaha yang lain?

Peluang bisnis lain tentu banyak, namun saya dari kecil mempunyai passion di bidang bisnis dan IT (Information and Technology). Seiring berjalannya waktu, saya menjadi suka bertemu dengan orang, presentasi, berbicara di depan umum, dan mencintai dunia marketing. Akhirnya muncul ide untuk menggabungkan kedua passion saya tersebut, walaupun keduanya merupakan dua bidang yang yang bertolak belakang. Oleh karena itu, saya mampu menjalankan bisnis pada kedua bidang tersebut dengan enjoy karena sangat sesuai dengan passion.
Beruntung, saat akan memulai bisnis, saya dipertemukan dengan Samuel Theodorus yang merupakan teman sebangku waktu kuliah. Bersamanya, saya mengembangkan bisnis digital branding consultant dengan mendirikan Elvent Digital dimana saya menjabat sebagai CEO. Benar saja, bersama Samuel, bisnis kami semakin berkembang karena memang memiliki passion yang sama.

Darimana awalnya Anda belajar membuat sebuah desain untuk sebuah perusahaan?

Saya bisa membuat design website dan membuat website itu sendiri karena kuliah di Jurusan IT Binus Sutera Alam. Namun, saya memang tidak terlalu ahli dalam mendesain identitas branding (logo, kartu nama, dll). Oleh karena itu, saya hire beberapa orang untuk bekerja dengan saya. Saya menganggap karyawan saya itu seperti teman sendiri. Banyak dari mereka yang lebih tua dari saya dan lebih senior dalam bidang teknik, tapi saya tetap menghargai mereka sama seperti teman saya yang lain. Dengan lingkungan kerja yang baik tentu akan dapat menghasilkan produk yang baik pula.
Omzet Pebisnis 20 Tahun Ini Mencapai Puluhan Juta Rupiah Per Bulan perusahaan branding sukses pebisnis pemula sukses pebisnis muda sukses pebisnis muda

Apa sih tantangannya dalam mengembangkan bisnis di dunia ini?

Dari sisi pesaing, kita tidak hanya bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang sudah lebih dulu menjalankan bisnis ini, tetapi kita juga bersaing dengan para freelancer yang mencari proyek. Bahkan, harga mereka relatif lebih murah karena tidak terbelit fixed cost dan variable cost. Hal tersebut berbeda dengan kami yang sudah mempunyai kantor produksi, pegawai, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dibutuhkan teknik marketing yang tepat dan efisien untuk membuat deal dengan calon klien. Dari sisi produksi pun juga harus lebih bagus dan siap untuk bersaing dengan siapa saja.

Lalu, sudah berapa perusahaan yang sudah menggunakan jasa Mas sampai sekarang dan berapa sih penghasilan yang didapat dari bisnis ini?

Dalam 1,5 tahun sejak didirikan, Elven Digital sudah membantu lebih dari 30 UKM hingga perusahaan berskala besar dalam membangun identitas branding mereka, website mereka, hingga memasarkan lewat internet. Tidak sedikit pengeluaran yang dianggarkan oleh perusahaan seperti dalam satu bulan membutuhkan biaya lebih dari 25 juta rupiah untuk menggaji karyawan, membayar rekening listrik, dan untuk keperluan yang lainnya. Oleh karena itu, penghasilan yang didapat per bulan pun tentunya harus melebihi biaya pengeluaran tersebut.

Apa yang biasanya menjadi inspirasi buat Mas dalam mendesain sebuah branding untuk perusahaan?

Inspirasi Elven Digital adalah desain-desain kelas premium di luar negeri maupun di dalam negeri. Kelas kami adalah kelas premium untuk enterprise, sehingga diperlukan proses update informasi untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Sejauh ini, bisnis Digital Branding Consultan sudah bagus dan banyak para pelaku bisnis yang berkembang. Namun, tidak sedikit pula yang kalah bersaing karena memang dari segi kualitas dan cara marketing yang dilakukan kurang tepat.

Terakhir, apa saran dari Mas agar mereka yang memulai bisnis tetap bersemangat?

Sampai saat ini kami belum pernah gagal menangani permintaan klien. Dan, jangan sampai hal tersebut terjadi. Kami akan melakukan upaya-upaya untuk selalu mencegah kegagalan tersebut. Pasalnya, kepuasan klien adalah prioritas kami. Paling tidak itulah yang harus dilakukan oleh mereka yang ingin mengawali bisnis. Untuk para calon entrepreneur muda, jika sudah mempunyai ide bisnis dan kemauan yang kuat, itu belum cukup. Hal yang paling mahal dan penting adalah keberanian kita untuk melangkah satu langkah saja untuk mempunyai bisnis dan mencapai mimpi kita. Bagi saya entrepreneur memiliki makna, yakni kerja keras sekarang untuk kerja ringan kelak.

24 Langkah Dari Buku “Disciplined Entrepreneurship” Oleh Bill Aulet

cara menjadi pengusaha startup sukses
Ini adalah buku yang direkomendasikan partner saya, Denny Santoso, ia beberapa kali mengatakan pada saya “Langkah-langkah di buku ini mirip dengan pola pikir saya dalam membangun bisnis”.
Siapa yang harus membaca ini ? First time entrepreneurs dan serial  entrepreneurs yang mencari product-market fit  (kesesuaian antara produk dan kebutuhan pasar) yang solid.
24-langkah ini adalah panduan untuk mencapai kesesuaian produk pada pasar (product-market fit) yang didasarkan pada proses yang telah diasah oleh Aulet selama bertahun-tahun pada saat mengajar. Entrepreneurship dan cara-cara menjadi pengusaha biasanya sangat kacau dan tak terduga, dan mudah-mudahan buku ini dapat menawarkan sebuah metode pada kekacauan di duna entrepreneurship.
Author: Aulet adalah managing director dari Martin Trust Center for MIT Entrepreneurship, yang mensupport edukasi entrepreneurship di MIT. Aulet telah mengajar bertahun-tahun di kelas entrepreneurship dan men-design kelas baru, accelarator dan kompetisiSebelumnya, Aulet menghabiskan 11 tahun di IBM dan telah mendapat experience yang real sebagai seorang serial entrepreneur.

Intro

Pertama, entrepreneurship dapat diajarkan. Membangun produk adalah kunci menuju entrepreneurship, dan proses itu mudah untuk dipelajari. Mitos lainnya yang harus ditolak adalah peran individual (pada kenyataannya, startup dengan lebih dari 1 founder lebih berhasil daripada solopreneurs) dan peran karisma (komunikasi, perekrutan, dan sales skill jauh lebih penting).
Buku ini akan fokus pada inovasi, yang berarti membuat sesuatu dan menjualnya. Membuat sesuatu bisa saja ide, teknologi, atau kekayaan intelektual.
24 langkah ini memiliki enam hal utama: Siapa pelanggan Anda? Apa yang dapat Anda lakukan untuk mereka? Bagaimana mereka mendapatkan produk Anda? Bagaimana Anda menghasilkan uang dari produk Anda? Bagaimana Anda merancang dan membangun produk Anda? Dan bagaimana Anda memperbesar bisnis Anda (scaling) ?
Disciplined-Entrepreneurship
Langkah 0 : Memulai
Ada tiga poin entrepreneurship : teknologi, ide, atau passion. Jika Anda memiliki passion tetapi tidak punya ide atau teknologi, lakukan introspeksi untuk mengetahui yang terbaik untuk Anda, termasuk skill, koneksi, aset keuangan, dan pengalaman kerja.
Langkah 1 : Segmentasi pasar
Untuk segmentasi pasar Anda, mulailah dengan brainstorming. Target Anda harus spesifik bukan hanya industri apa yang Anda masuki, tetapi tipe spesifik dari user, lokasi mereka, dan karakteristik lain – misalnya,  laki-laki umur 25-34 tahun di Boston yang bermain video game di malam hari.  Taruhan terbaik Anda adalah membuat market baru, daripada mencoba untuk menjual kepada pasar besar yang sudah banyak pemain.
Lalu, persempit ke dalam daftar berisi hanya 6-12 pasar saja berdasarkan customer yang memiliki uang dan alasan mengapa mereka mau membeli produk Anda. Kemudian, lakukanlah penelitian terhadap pasar tersebut dengan berbicara dan mengamati mereka, pastikan untuk bersikap terbuka terhadap informasi baru. Proses ini biasanya memakan beberapa minggu.
Langkah 2: Pilih pasar yang bisa dimasuki
Untuk memilih pasar yang bisa dimasuki, gunakanlah kriteria yang sama seperti sebelumnya: apakah para calon kustomer Anda memiliki uang dan alasan untuk membeli produk Anda, apakah Anda dapat mencapai mereka dan memenangkan kompetisi, apakah produk Anda memiliki kemungkinan membuka pasar di masa depan, dan passion Anda di dalamnya. Pasar yang lebih kecil cenderung lebih baik, dan itu sangat penting karena Anda harus fokus pada pasar awal Anda  dan mengabaikan yang lain (untuk saat ini). Kemudian, lanjutkan segmentasi pasar sampai memenuhi kondisi ini: pelanggan membeli produk yang sama untuk alasan yang sama, dan mereka berbicara satu sama lain (word of mouth).
Langkah 3: Membangun profil End User
Untuk profil end user – yang belum tentu membeli, persempitlah demografis  mereka, termasuk hal-hal seperti usia, lokasi, pendapatan, kebiasaan, backstory, dan motivasi.
Langkah 4 : Hitung total addressable market ( TAM ) untuk market segment
TAM adalah jumlah dari pendapatan tahunan yang Anda bisa dapatkan jika market share Anda mencapai 100 persen di market. Hitung jumlah pengguna menggunakan bottom-up ( daftar pelanggan, asosiasi yang ada di pasar) dan metode top-down ( market reports ) untuk verifikasi. Hitung perkiraan pendapatan berdasarkan berapa banyak uang yang pelanggan Anda habiskan dan berapa nilai yang Anda berikan. Target TAM Anda harus di antara $ 20-100 juta, jika lebih dari itu, Anda perlu melakukan segmentasi.
Langkah 5 : Profil Persona untuk market segment
Pilih orang yang nyata untuk menjadi Persona Anda dan kembangkan profil mereka, termasuk foto mereka, backstory, pekerjaan, gaji, kriteria pembelian (urut ), dan rincian lainnya. Libatkan seluruh tim dalam proses ini. Tujuannya adalah untuk membantu Anda menyelesaikan pertanyaan di masa depan tentang pelanggan Anda, bagaimana menjual kepada mereka, arah  mana yang bisa diambil, dll
Langkah 6 :  Full life cycle use case
Deskripsikan bukan hanya Persona Anda yang menggunakan produk Anda, tetapi bagaimana mereka menemukan kebutuhan untuk itu, cari tahu tentang itu, analisis, dapatkan hasilnya, install, dapatkan value, bayarlah untuk itu, dapatkan dukungan, beli lebih banyak, dan beritahukan kepada orang lain tentang hal itu.
Langkah 7 : High-Level product specification 
Membuat representasi visual dari produk : storyboard atau wireframes untuk website Anda, atau diagram untuk device Anda. Tapi dalam tahap ini jangan membangun apa pun atau mendapatkan sesuatu yang terlalu spesifik – tujuan di sini adalah hanya untuk meniadakan perbedaan pendapat dan kesalahpahaman di antara tim. Kemudian, buatlah brosur yang berfokus pada fitur dan, lebih penting lagi, bagaimana hal itu menguntungkan pelanggan.
Langkah 8 : Meng-kuantifikasi value proposition produk Anda 
Buatlah sebuah diagram yang menunjukkan status quo serta manfaat kuantitatif yang didapatkan pelanggan dari produk Anda  - dalam bentuk waktu, uang, atau apa pun yang menjadi prioritas utama mereka. Gunakan angka yang real.
Langkah 9 : Identifikasi 10 pelanggan berikutnya
Cobalah untuk mengidentifikasi 10 pelanggan yang mirip dengan Persona Anda sebelumnya dan mereka yang bersedia untuk membeli produk Anda. Anda melakukan ini dengan cara benar-benar berbicara dengan mereka dan mencoba untuk memvalidasi full life cycle use case,spesifikasi produk, dan nilai yang diukur dari value proposition. Cobalah untuk meminta komitmen mereka untuk membeli, jika tidak bisa, kembalilah ke papan gambar dan lakukan revisi pada asumsi Anda ( ini bagian dari proses, karena asumsi Anda hanya merupakan perkiraan.) Jika Anda telah mencoba dan mencoba dan tidak dapat menemukan 10 pelanggan, mungkin Anda perlu mengubah Persona Anda atau bahkan mencoba membuat Persona di market yang lain.
Langkah 10 : Tentukan Inti Perusahaan Anda
Jelaskan Inti – “secret sauce” – Anda sehingga kompetitor tidak dapat meniru dengan mudah. Hal ini ini akan menjadi fokus usaha Anda dan Anda tidak boleh banyak merubahnya. Biasanya ini seperti network of users yang telah Anda bangun, layanan pelanggan yang fantastis, biaya rendah, atau user experience. Dan biasanya bukan intellectual property, kecepatan inovasi, keunggulan menjadi pemain pertama, atau kontrak eksklusif dengan supplier.
Langkah 11 : Bagan posisi kompetitif Anda
Buatlah grafik posisi kompetitif : grafik dua dimensi yang menggambar dua prioritas pelanggan di kedua sumbu. Tempatkan diri Anda dan pesaing Anda ( termasuk ” status quo ” ) di peta – tempat Anda harus berada di pojok kanan atas. Dan pastikan posisi kompetitif Anda menggunakan Inti dari perusahaan Anda – jika tidak, Anda mungkin perlu peluang pasar yang berbeda.
Langkah 12 : Tentukan Unit decision-making unit ( DMU )
Memetakan semua orang yang mempengaruhi keputusan pembelian : dari end user sampai kepada pembeli utama, influencer lain, orang-orang dengan hak veto, dan departemen pembelian (untuk B2B ). Anda mungkin harus belajar untuk menjual atau setidaknya menetralisir beberapa pihak lain.
Langkah 13 : Peta proses untuk memperoleh pelanggan yang mau menggunakan produk Anda
Buat langkah – demi-langkah bagaimana pelanggan akan memutuskan untuk membeli produk Anda, cari tahu tentang hal itu, analisis, ambil datanya, install dan bayarlah untuk itu. Perkirakan berapa lama siklus penjualan, dan setiap kendala besar yang mungkin bisa saja Anda alami dalam budget, peraturan, atau legalitas.
Langkah 14 : Hitung ukuran TAM untuk pasar yang dituju
Buatlah sekitar lima atau enam market list setelah Anda memasuki market Anda. Pada market baru tersebut Anda bisa saja menjual produk lain untuk pelanggan yang sama, atau menjual produk yang sama ke pasar yang berdekatan. Hitung mereka dengan cara yang sama Anda lakukan pada Langkah 4, tetapi tanpa menghabiskan banyak waktu untuk itu ( mungkin hanya 1/10 ). Untuk bisa menghasilkan uang atau membangun bisnis besar, TAM keseluruhan Anda ( kurang dari 10 market ) harus lebih dari $1 miliar (dalam contoh ini di US).
Langkah 15 : Desain model bisnis
Sebuah model bisnis adalah bagaimana Anda meng-ekstrak value dari pelanggan, dan entrepreneurs tidak menghabiskan cukup waktu untuk berpikir tentang ini. Lihatlah model bisnis yang sudah ada, seperti sistem subscription, upselling, ads, biaya transaksi/transaction fee, dan micropayment. Ingat bahwa “we’ll figure it later” atau “nanti kita pikirkan” bukanlah model bisnis. Kemudian, lakukan brainstorming yang inovatif dan pilihlah dengan baik karena akan sulit untuk mengubahnya nanti.
Langkah 16 : Mengatur pricing framework
Perkiraan harga tidak didasarkan hanya pada biaya/cost, namun lebih kepada nilai/value yang Anda berikan – perkiraan yang baik adalah sekitar 20 persen dari nilai/value tersebut. Jangan lupa pertimbangkan adanya batas budget dari customer dan juga DMU (lihat langkah 12) dan harga produk pesaing Anda. Ingat, Anda bisa saja menawarkan harga yang berbeda untuk pelanggan yang berbeda, dan pastikan untuk memberikan diskon kepada tester awal atau influencer. Perlu diingat, lebih baik memiliki harga tinggi dan menurunkannya daripada sebaliknya.
Langkah 17 : Hitung lifetime value ( LTV ) dari pelanggan yang diperoleh
Hitung LTV berdasarkan aliran pendapatan, margin kotor, tingkat retensi, waktu hidupnya produk, tingkat pembelian ulang, dan biaya untuk raising fund. Yang terakhir adalah hal yang penting dan mahal : startups membayar banyak ekuitas untuk raise fund. Anda harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti model bisnis, marjin laba kotor, tingkat retensi, dan kemampuan untuk upsell yang tentunya memiliki dampak yang besar pada LTV Anda.
Langkah 18 : Petakan proses penjualan untuk mendapatkan pelanggan
Buatlah peta untuk melihat proses penjualan yang akan bekerja dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Dalam jangka pendek, Anda harus sering-sering menggunakan tenaga penjualan atau inbound marketing, email, dan media sosial. Dalam jangka menengah, pesanan akan datang secara teratur dan Anda dapat lebih fokus pada mempertahankan pelanggan yang sudah ada, Anda dapat menggunakan distributor pada tahap ini. Dalam jangka panjang, Anda kebanyakan berfokus pada manajemen klien.
Langkah 19 : Hitung cost of customer acquisition ( COCA )
COCA sulit untuk dihitung dan sering diremehkan, tetapi sangat penting, karena nilai COCA yang terlalu tinggi dapat membunuh bisnis. Hitung COCA dari atas ke bawah : penjualan Anda secara keseluruhan dan biaya pemasaran dibagi dengan jumlah pelanggan yang Anda miliki selama periode waktu itu. Untuk mengurangi COCA Anda, cobalah untuk mengurangi penjualan langsung, mengotomatisasi akuisisi pelanggan, meningkatkan tingkat konversi dan lead, mengurangi siklus penjualan, dan gunakan word of mouth.
Langkah 20 : Mengidentifikasi asumsi
Lakukan brainstorming terhadap 5-10  asumsi Anda yang belum diuji.
Langkah 21 : Uji asumsi
Desain uji asumsi yang paling murah, paling cepat dan paling mudah yang dapat Anda pikirkan untuk membantah atau memvalidasi asumsi Anda.
Langkah 22 : Tentukan minimum viable business product ( MVBP )
MVBP adalah produk minimum yang bisa pelanggan dapatkan dari membayar produk dan dalam tahap ini pelanggan harus bisa memberikan feedback. Ini memang harus dilakukan untuk menguji asumsi awal Anda. MVBP adalah metodologi Lean Startup atau ” MVP. ”
Langkah 23 : Tunjukkan bahwa ” anjing akan makan makanan anjing “
Cobalah launch MVBP Anda kepada pelanggan dan lihatlah apakah mereka akan membeli produk Anda dan terlibat (engage) dengan produk Anda, dan merekomendasikan hal ini kepada teman-teman mereka. Anda harus melakukan tracking terhadap semua ini.
Langkah 24 : Mengembangkan rencana produk
Luangkan waktu untuk merencanakan  fitur apa yang Anda akan tambahkan pada MVBP untuk pasar yang ingin Anda masuki, dan pasar yang berdekatan yang nantinya akan Anda masuki berikutnya ( dan bagaimana Anda harus menyesuaikan produk untuk mereka ). Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal ini – idenya adalah hanya untuk berpikir tentang pilihan Anda.
Sumber : tech.co

Buku yang dimiliki para Entrepreneur Web

Buku adalah jendela dunia bagi siapa pun, tak terkecuali entrepreneur. Berikut adalah sejumlah koleksi buku yang perlu dibaca oleh entrepreneur yang bergerak di bidang web. Daftar ini disarikan dari penjelasan Erica Virtue, Co-founder, Vitogo.com. Semua buku ini dikelompokkan berdasarkan tema-tema utama yang sangat relevan bagi entrepreneur yang akan bergelut dalam dunia startup digital.
Tema Entrepreneurship
“Founders at Work” oleh Jessica Livingston
Buku ini merupakan koleksi wawancara dengan para pendiri perusahaan teknologi terkenal mengenai hal yang terjadi di awal pendirian usaha mereka. Di dalamnya juga dimuat berbagai kisah dari para pendiri seperti Steve Wozniak (Apple), Caterina Fake (Flickr), Mitch Kapor (Lotus), Max Levchin (PayPal), dan Sabeer Bhatia (Hotmail). Buku ini sangat bagus dibaca jika Anda mempertimbangkan mendirikan sebuah startup atau jika Anda sudah memilikinya, dan hendak mendengarkan sejumlah saran dan nasihat serta motivasi dari para entrepreneur yang membuatnya.

“Art of the Start” oleh Guy Kawasaki
Buku ini berfokus pada pembahasan bagaimana memulai semua dan menjalankannya, termasuk usaha baru, acara atau ide apapun. Panduan berguna dan praktis dari Guy Kawasaki ini didasarkan pada pengalamannya selama bekerja di Silicon Valley sebagai pendiri startup, evangelist di Apple, seorang venture capitalist dan seorang penulis.
Ia mendorong para entrepreneur untuk memikirkan makna, membuat mantra, dan memulai. Bagian FAQ membahas berbagai pertanyaan yang orang miliki dalam benak mereka saat memulai usaha.
“Good to Great” oleh Jim Collins
Selama 5 tahun, Jim Collins dan timnya menganalisis 11 perusahaan untuk menguak faktor-faktor penentu kesuksesan mereka, mengapa sebagian perusahaan mampu melompat dari tingkatan “payah” ke tingkatan “luar biasa” sementara yang lain makin tenggelam. Collins menemukan bahwa kuncinya ialah sesuatu yang disebut sebagai “Konsep Landak” (Hedgehog Concept). Ini merupakan suatu produk atau layanan yang menggiring perusahaan agar mampu melejit melampaui semua pesaingnya.
Tema Ide dan Produk/ Market

“The Four Steps to the Epiphany” oleh Steve Blank
Berdasarkan pada kuliah Steve Blank di sekolah bisnis Berkeley, buku ini menerangkan proses pengembangan pelanggan yang melengkapi proses pengembangan produk sebuah startup. Blank memberikan strategi rinci mengenai cara mengatur penjualan, marketing dan pengembangan bisnis untuk sebuah perusahaan atau produk baru.
“The Lean Startup” oleh Eric Ries
Dalam buku ini, penulis menggambarkan metodologi “Lean Startup” yang mengemukakan penciptaan purwarupa yang cepat yang didesain untuk menguji asumsi pasar dan menggunakan masukan dari konsumen untuk mengembangkannya dengan lebih cepat daripada menggunakan praktik pengembangan produk tradisional. Ries diilhami oleh proses manufaktur yang efisien, yang berfokus pada penyingkiran tugas atau investasi apapun yang tidak menghasilkan manfaat bagi konsumen. Ide pokoknya ialah mengurangi ‘buangan’, belajar dengan cepat, membuat keputusan yang didasarkan pada data, fokus pada manfaat bagi konsumen, dan beralih ke yang lain saat diperlukan.
“Made to Stick” oleh Chip dan Dan Heath
Buku “Made to Stick” menjelaskan mengapa sebagian ide berkembang dan yang lain tidak. Heath bersaudara ini menuliskan hal yang membuat sebuah ide melekat dan bagaimana Anda dapat membuat startup Anda lebih baik dengan menggunakan “prinsip skala manusia”, Velcro Theory of Memory dan menciptakan “jurang keingintahuan”.
Tema Customer Service
“Delivering Happiness” oleh Tony Hsieh
Dalam buku ini, CEO Zappos Tony Hsieh menjelaskan riwayat karirnya sebagai entrepreneur dan berbagi berbagai pengalaman mengenai cara mendirikan bisnis ritel online yang sukses dengan memfokuskan diri pada layanan konsumen yang sangat dijaga baik dan budaya perusahaan yang prima.
“Saya ingin menulis sebuah buku untuk membahas perjalanan yang saya tempuh dalam kehidupan ini sehubungan dengan hal yang akan membawa kebahagiaan jangka panjang bagi diri saya dan hal yang secara tak sengaja saya temukan ialah bahwa Anda sebenarnya bisa mengambil konsep dari kebahagiaan dan menerapkannya ke dalam konteks bisnis,” kata Hsieh.
“The Thank You Economy” oleh Gary Vaynerchuk
Dalam buku ini, entrepreneur multitalenta Gary Vaynerchuk berbagi nasihat bagaimana perusahaan apapun bisa memberikan perhatian yang personal dan terfokus pada setiap pelanggan seperti yang dilakukan banyak perusahaan masa lalu dengan menggunakanplatform jejaring sosial yang sama yang akan membawa brand melambung.
Menurut Vaynerchuck, jejaring sosial bukan sebuah cara baru untuk melakukan bisnis tetapi sebuah alat untuk e mnungkinkan kita kembali kepada saat perusahaan hidup dan mati karena yang dikatakan oleh konsumen mereka dan oleh pengaruh orang satu sama lain. Itu berarti setiap orang yang bersinggungan dengan bisnis kita harus merasa diperlakukan dengan layak.
Buku ini menunjukkan bagaimana berinteraksi dengan para konsumen secara apa adanya dan tulus di jejaring sosial bisa menciptakan kesetiaan terhadap brand yang dimiliki sebuah perusahaan dan termasuk berbagai contoh terkini dan detil seperti Zagat dan Yelp.
Tema Venture Capital
“Venture Deals” oleh Brad Feld dan Jason Mendelson
Terinspirasi oleh serangkaian artikel blog yang ditulis direktur pengelolaan Foundry Group, Venture Deals menyingkirkan mitos proses pendanaan VC. Ini buku yang patut dibaca oleh entrepreneur yang ingin mencapai kemajuan melalui berbagai tahapan pengumpulan dana dan buku ini dapat membantu Anda menghindari sejumlah kesalahan entrepreneur baru.
Di sini, Anda akan menemukan pembahasan yang teratur mengenai mekanisme Term Sheet, bagaimana valuasi dilakukan, dan bahkan ada penjelasan mengenai contoh-contoh dokumen baku yang digunakan dalam transaksi VC. Buku yang perlu dimiliki oleh Anda yang sedang ingin mendapatkan pendanaan dari VC.
“Mastering the VC Game” oleh Jeffrey Bussgang
Jeffrey Bussgang memberikan berbagai pandangan tingkat tinggi, berbagai kisah inspiratif, dan nasihat praktis yang dikumpulkan dari pengalamannya dan dari sejumlah wawancara dengan beberapa entrepreneur sukses dan venture capitalists, termasuk pendiri Twitter Jack Dorsey dan pendiri LinkedIn Reid Hoffman. Ia menunjukkan bagaimana seorang entrepreneur bisa dikenal, memberikan presentasi yang persuasif dan efektif, dan berunding mengenai kemitraan yang akan menguntungkan kedua belah pihak.
Anda akan menemukan sebuah buku yang bagus untuk mengenal dunia VC dan ulasan umum mengenai cara kerja VC dan hal-hal yang bisa diharapkan dari VC.
“Dont Make Me Think!” oleh Steve Krug
Dont Make Me Think! secara ringkas menjelaskan semua hal yang entrepreneur perlu ketahui saat inginmmemulai berbisnis dengan kegunaan web. Dalam buku ini, pakar kegunaan Steve Krug membahas bagaimana mendesain halaman-halaman web untuk dipindai, tidak membaca dan bagaimana menulis untuk web. “Saat saya menulis buku ini, niat saya adalah membantu prang utnuk belajar berpikir seperti pakar: menanyakan pertanyaan yang sama yang ada dalam benak saya saat saya mengulas kegunaan.”
“Above the Fold” oleh Brian Miller
Above the fold ialah konsep desain yang mengacu pada lokasi kisah berita penting atau foto yang secara visual menarik di separuh halaman muka atas surat kabar (atau untuk halaman web, bagian halaman yang tampak jelas tanpa scrolling). Anda akan menemukan poin-poin penting komunikasi grafis efektif dalam desain web. Ada 3 bagian dalam buku ini yang berfokus apda desain situs, perencanaan dan kegunaan, dan SEO dan masalah marketing lainnya. Anda akan banyak belajar mengenai aspek-aspek penting web design di sini.
“ReWork” oleh 37 Signals

Buku ini pada dasarnya blog “Signal vs. Noise” yang banyak membicarakan mengenai desain dan kegunaan dalam format buku. Penulis berbagi filosofi penting dalam keberhasilannya dan mendorong Anda untuk memikirkan kembali semua hal yang Anda pikir Anda sudah ketahui mengenai strategi, konsumen dan lain-lain.
Tema Marketing
“Purple Cow” oleh Seth Godin

Bergantung pada siapa yang Anda ajak bicara, mungkin akan ada lebih dari 7 ” dalam marketing, misalnya penentuan harga, produk, promosi, publisitas, pengemasan, penempatan, proses, bukti fisik, dan sumber daya manusia. Menurut Seth Godin, para pekerja marketing mengabaikan P yang paling penting” Purple Cow alias sapi ungu.
Sapi menurutnya adalah hewan yang membosankan namun sapi ungu ialah semua hal yang fenomenal, konterintuitif, menyenangkan atau luar biasa. Setiap hari, konsumen mengabaikan banyak sapi biasa namun Anda bisa bertaruh mereka tidak akan mengabaikan sapi ungu.
“Crossing the Chasm” oleh Geoffrey Moore
Geoffrey Moore berpendapat bahwa produk-produk berteknologitinggi membutuhkan strategi marketing yang bagus yang berbeda dari strategi yang dipakai di industri lainnya. Para pengadopsi awal sebuah teknologi tidak selalu serupa dengan pasar mainstream yang menjelaskan mengapa sebagian produk berteknologi tinggi memiliki penjualan awal yang tinggi.
Tema Biografi

“Steve Jobs” oleh Walter Isaacson
Buku ini mencakup berbagai fase mengenai kehidupan Steve Jobs, dari adopsinya, masa kuliah, Apple, NeXt, Pixar dan kemudian Apple. Buku ini sangat komprehensif dan objektif. Walter Isaacson tidak menutup-nutupi fakta mengenai kepribadian Jobs dan hal-hal aneh dalam diri sang entrepreneur tersebut. Buku ini tebal namun sangat patut dibaca dari halaman ke halaman.
 

© Copyright pd Grup 2010 -2011 | Powered by Blogger.com.
notifikasi
close